MATILAH KALIAN KARENA KEMARAHAN KALIAN _______ Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani Dua hari yang lalu para ulama dan da'i se Asia Tenggara berkumpul di Jakarta. Dari Indonesia ada yang mewakili Nahdlatul Ulama, Muhammadiyyah, Al-Washliyyah dan lain sebagainya, termasuk ada juga ustadz Felix Siauw sebagai "perwakilan" dari Hizbut Tahrir Indonesia. Tentunya ini merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan, para ulama panutan umat berkumpul dalam satu tempat dan acara untuk mendeklarasikan semangat persatuan di antara mereka. Tidak ada lagi sikap 'ashobiyyah yang dimunculkan, merasa bangga dengan masing-masing kelompoknya. Uniknya, pada acara tersebut ustadz Felix Siauw turut pula dihadirkan. Padahal beliau adalah salah seorang da'i yang seringkali mendapat persekusi dari para haters'nya. Dengan alasan Felix Siauw termasuk anggota HTI yang sudah dibubarkan oleh pemerintah, pengajian beliau dibubarkan di mana-mana. Jelas saja dengan dihadirkannya ustadz Felix pada...
TGB DAN 'SANDERA POLITIK' DEMOKRASI ? Oleh: Nasrudin Joha Tidak aneh, wajar, lumrah dan sangat biasa, jika seseorang pindah haluan, lompat pagar, menjadi kutu loncat, berubah keberpihakan dalam sistem demokrasi. Bahkan, menjadi penjilat dan Ngibulin pun, dianggap langkah politik yang realistis. Kenapa ? Karena demokrasi itu asasnya pragmatisme. Seseorang akan konsisten selalu berjalan diatas kepentingan "kemaslahatan (baca: pragmatisme)". Pindah haluan, mengambil jalan memutar, atau pindah kapal sepanjang untuk merealisir 'kemaslahatan' dianggap sah dan legal dalam sistem demokrasi. Meski, untuk meraih kemaslahatan itu orang harus jilat ludah, jadi mesin pengepel, menjadi tempe setelah paginya karib berwujud kedele, dan seterusnya. Illatnya maslahat. Jika ada maslahat maka kepentingan itu ada, jika tidak ada maslahat kepentingan itu hilang. Politik mengikuti kepentingan, ada dan tiadanya. Jika kepentingan ada dia ada, jika kepentingan tidak ada dia hilang....