Skip to main content

Bagaimana Nasionalisme Justru Menghancurkan Kita, dan Makanya Harus Kita Tolak!

Beberapa hari yang lalu, teman saya membawa oleh-oleh berupa makanan-makanan dari luar negeri. Nah, diantara makanan-makanan dari luar negeri tersebut, tiba-tiba ada sebuah makanan yang tidak asing. Tidak lain dan tidak bukan, ternyata makanan tersebut gampang ditemukan di Indonesia. Lalu, salah seorang dari kami penasaran dengan makanan tersebut, dan membaca keterangan kemasan makanan tersebut.

Kemudian dia pun kaget, "WADUH! Ternyata ini produk (salah satu nama negara) ya? Aku kirain produk Indonesia! Wah, gawat ini.. Nggak bisa begini.. Lihat aja nanti, aku buat perusahaan yang lebih bagus daripada ini.."

Spontanlah saya menggeleng-gelengkan kepala, emangnya kenapa kalau ini produk dari (salah satu nama negara)? Cobalah kalau kita berpikir dengan jernih, maka kita akan dapat, kenapa sih, kita suka nggak senang kalau negara luar lebih hebat daripada Indonesia? Kenapa negara lain selain Indonesia itu harus dibenci? Mereka salah apa? Apa mereka setan? Apa mereka musuh Allah? Kenapa kita harus membela sebagian manusia saja, hanya karena satu negeri? Egois!

Belum lagi bahas soal bahwa kita tidak diharuskan untuk menolong orang-orang luar negeri yang tersiksa. Malahan ada pula perilaku yang sinis dilontarkan kepada kita, kalau kita hobi menolong seseorang, yang orang itu adalah orang luar negeri. Seolah-olah, yang namanya teman dan saudara hanyalah orang Indonesia, sedangkan orang luar negeri adalah musuh. Padahal satu aqidah.
Nationalism is a sense of national cosciousness exalting one nation above all others...
[Webster Dictionary]
Kasus ini cocok dengan yang digambarkan dalam kamus Webster, yang isinya, "Nasionalisme adalah satu perasaan untuk mengagungkan satu bangsa di atas bangsa-bangsa yang lain."

Hari Gini Menyombongkan Indonesia? Apa Kata Rasulullah?

Sejenak, mari kita bernostalgia dulu. Yakni, nostalgia perjalanan seorang manusia yang terbaik, Nabi Muhammad, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Pertama kali Rasul dapat wahyu Islam, beliau langsung beritahu kejadian tersebut ke istrinya, Khadijah. Lalu, beliau lanjut memberitahukan ajaran Islam kepada Abu Bakar, dan terus memberitahukan ajaran Islam kepada orang-orang terdekat beliau. Hingga ke depannya, diadakan rutinitas berupa pengkaderan dan pembinaan sahabat-sahabat, untuk membentuk kepribadian Islam mereka (Syakhsiyah Islaamiyah).

Setelah terbentuk beberapa pengemban dakwah, Rasul dan para sahabat mulai mengkampanyekan Islam kepada orang-orang di Mekkah. Meski memang, malah banyak yang menolak ide agama Islam tersebut.

Luas Wilayah Daulah Khilafah Islamiyah: 20.000.000 Kilometer persegi
Luas Wilayah Daulah Khilafah: 20.000.000 Km persegi
Lalu, beberapa waktu ke depan, beliau hijrah ke Madinah. Dan di Madinah tersebutlah, agama Islam yang dibawakan Rasul, diterima banyak orang-orang di sana. Bahkan, orang-orang yang memilki kekuasaan di sana pun menerima Islam. Hingga akhirnya, seperti yang kita ketahui, Rasulullah membangun Daulah Islam Nabawiyah.

Dan negeri Islam yang dibangun Rasul ini semakin berkembang, mulai dari tahun 623 Masehi, sampai dilanjutkan dengan Daulah Khilafah Islamiyah, hingga luas negerinya mencapai 20.000.000 Kilometer persegi. Waw!

Saat Negeri Islam Hancur..

Sayangnya, hal itu tak berlangsung lama. Sekitar tahun 1924 Masehi, negeri Islam yang paling maju di Dunia saat itu, tiba-tiba menjadi hancur. Pecah menjadi negara-negara kecil, yang kita kenal dengan nama Indonesia, Malaysia, Arab, Turki, Iran, Irak, Mesir, Palestina, dan lain-lainnya. Dan pada saat itu pulalah, negeri barat jadi maju, seperti sekarang ini.

Kok bisa? Begini cerita awalnya..

Peradaban Islam bisa runtuh, karena faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internalnya, insya Allah kita bahas di artikel lain. Faktor eksternalnya, karena virus ide nasionalisme! Yang pada saat itu, dibawakan oleh orang Barat di Inggris dan di Prancis, ke Syam yang di Arab, serta Turki di Eropa.

Jauh sebelum hal itu terjadi, awal-awalnya banyak mahasiswa-mahasiswa dari Turki yang kuliah di Prancis, udah sering dicekoki virus ide nasionalisme tersebut. Tidak lain dan tidak bukan, "sponsornya" adalah Freemason Yunani.

Besok-besoknya, mahasiswa ini membentuk sebuah geng Jong Turk (Fatat At-Turk). Kemudian mereka memperkenalkan ide nasionalisme ini. Dan sialnya, ide mereka berhasil diterima. Meski memang, awalnya Abdul Hamid II udah mati-matian juga mempertahakan Khilafah. Soalnya, musuh beliau banyak banget. Bayangin aja, mulai dari Orang Nasionalis, Nasrani, Inggris, Prancis, Yahudi Zionis, bahkan syaikhul yang berkhianat.

Ngelihat keberhasilan ini, si Bos dari Inggris pun tertawa-tawa jadinya. Kesenengan dia. Soalnya, sampai-sampai masyarakat Arab jadi memberontak dengan Khilafah. Mereka lebih cinta dengan Barat. Akhirnya, Prancis dan Inggris memotong-motong wilayah Arab, sehingga mereka bisa sharing-sharing wilayah. Makanya Prancis jadi dapet Aljazair, Lebanon, Sundan, Syria, dan Tunisia. Sedangkan si Inggris, lumayanlah, dapet sebagian potongan wilayah Khilafah Utsmani.

Bendera Nasional, Bendera Geje

Bendera Nasional, Bendera Geje
Bendera Nasional, Bendera Geje
Bendera Rasulullah
Satu hal yang perlu dicatat baik-baik, nasionalisme ini disimbolkan dengan: bendera. Iya, bendera. Hm, mungkin Anda belum mengerti. Kalau begitu, saya kasih tahu. Bahwa yang namanya bendera itu, bukanlah sebuah benda biasa yang bila tanpanya, segalanya tetap bisa berjalan. Bendera itu sama dengan brand. Harus kerap nongol.

Bendera itu simbol perjuangan seseorang, hingga stamaninya, duitnya, dan waktunya jadi terkuras. Itu adalah lambang dari apa yang dikejar-kejar dan dibela-bela oleh seseorang, selama ia hidup.
Rayahnya (panji peperangan) Rasul Saw berwarna hitam, sedang benderanya (liwa'nya) berwarna putih.
[HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah]
Panji Rasulullah Saw berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.
[HR. Tirmidzi]
Sesungguhnya Rasulullah Saw masuk ke kota Makkah pada saat pembebasan Makkah, sementara Liwa’ (bendera) Beliau berwarna putih.
[HR. Ibn Majah dari Jabir]
Barang siapa yg berperang dibawah bendera ketidakjelasan, ia berperang karena kefanatikan & marah karena kefanatikan, maka terbunuhnya adalah terbunuh secara jahiliyah...
[HR. Nasai No. 4046]
Lagian, dari pas masih anak-anak, saya udah punya intuisi bahwa kurang sreg ngelihat banyak bendera-bendera begitu.. Udah ada perasaan kurang enak gitulah..

Ternyata pas udah mulai menelanjangi fakta, mengutui Sejarah, dan menelisiki data, barulah sadar. Ternyata, yang namanya nasionalisme, itu penyempitan cinta. Nasionalisme, membuat kita hanya cinta pada yang satu bangsa, satu ras, satu tanah air. Luar dari itu....
"EGEPE~ EGEPE~ EGEPE~, Sorry Sorriiy ajeee~ Emang lo pikir, elo siape?"
Akibatnya...

Korban Akibat Nasionalisme

Korban Akibat Nasionalisme

Korban Akibat Nasionalisme

Pemerintah Cuek

Lagi pula, sebetulnya ikatan nasionalisme ini lemah. Hanya menguat, bila ada ancaman dari pihak luar saja. Begitu ancamannya berkurang, maka ikatan ini pun mulai meredup. Sampai ancaman dari luar menghilang, maka ikatannya pun lenyap (Wikipedia).

Makanya, sampai mati pun, kita nggak akan mau mengangkat bendera-bendera geje. Nggak akan mau berjuang atas dasar nasionalisme. Disuruh gimana pun, pokoknya nggak mau. Kenapa? Lah! Apa-apaan itu! Nggak menggambarkan siapa kita ini! Muslim kita ini!

Ukhuwah Islamiyyah VS Nasionalisme

Comments

Popular posts from this blog

REVISI MAKALAH HUBUNGAN FILSAFAT BAHASA DENGAN LOGOSENTRISME

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Semenjak zaman Yunani kuno filsafat telah menjadi perhatian pokok para filsuf sebagai dasar pijakan untuk memandang segala sesuatu termasuk bahasa. Bahasa telah menjadi topik menarik sepanjang sejarah bagi para filsuf, dapat dikatakan perhatian filsafat terhadap bahasa saat ini sama agungnya dengan “ being” (yang ada) dalam filsafat klasik dulu. Logos atau bahasa menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama dari pengetahuan manusia. Seiring waktu para filsuf menemukan bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep analisa yang menjadi tugas utama filsafat. Keterpusatan para filsuf terhadap bahasa inilah yang kemudian dinamakan dengan “logosentrisme”. Eko Ari Widodo dalam Jurnal Oka Antara edisi ke-4, tahun 2009 menjelaskan bahwa logosentrisme adalah sebuah sistem metafisik yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental dibalik segala hal yang tampak di permukaan atau segala hal y...

Sejarah Desa Rancah

          Menurut cerita dari para orang tua, Rancah dahulu berbeda dengan Rancah sekarang. Sesuai dengan namanya, Rancah zaman dahulu merupakan daerah yang penuh dengan lumpur (rawa), walaupun tidak semua daerah Rancah berlumpur. Oleh karena itu daerah Rancah cocok untuk ditanami tanaman padi. Disamping daerah rawa, Rancah juga ternyata diapit oleh pegunungan-pegunungan yang sangat luas. Potensi hasil hutan Rancah mungkin dahulu sangat besar. Tetapi lain dulu lain sekarang. Kini Rancah merupakan daerah yang mulai beralih kepada daerah perniagaan. Daerahnya yang sangat strategis membuat semua orang meliriknya untuk menjadikan Rancah sebagai tempat usaha. Pegunungan yang dahulunya penuh dengan pepohonan, kini sudah mulai berubah menjadi tempat pemukiman masyarakat yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Kalau melihat sejarah ada kemungkinan masyarakat Rancah dulunya adalah penganut Animisme dan dinamisme serta ajaran Hindu Budha. Hal ini dapat dibuktikan de...

Hujatan

      Hari ini musik banyak dihujat. Beberapa kawan dekat saya yang dulu aktif bermusik, kini bahkan bilang ia haram. Tapi musik adalah objek, ialah benda mati yang dihidupkan manusianya. Sama dengan pena diberikan kepada revolusioner maka mampu memerdekakan sebuah bangsa; diberikan kepada psikopat, ia menjelma senjata pembunuh yang bahkan mampu menggorok bayi yang tak berdosa pun.              di saat ku menyadari di sini