"Kamu hanya angin yang telah berlalu, itu saja"
Sesuatu yang telah pergi tak perlu diharapkan
untuk kembali...
Jika kamu memilih pergi, maka tak perlu aku
mengingatmu lagi. Hari ini di tengah hati yang
masih penuh derita ini, aku berjanji pada diriku
sendiri bahwa namamu tak boleh lagi menjadi
alasan untuk tangisku.
Aku memang sedih dan masih bersedih, aku
mengakui itu.
Tapi aku bukan menangisi kepergianmu, aku
menangisi nasib yang tak menyadarku dengan
cepat bagaimana bodohnya aku
telah memilihmu. Detik ini juga aku
mengharamkan pikiranku untuk melukiskan
wajahmu lagi di sana. Aku sudah dan harus bisa
move on.
Perjalananku akan dimulai hari ini dengan
menghapus setiap "kamu" dan memisahkannya
dari seorang "aku". Tak ada lagi kita, hanya ada
asing dan sebuah ruang kosong. Sudah
kulumpuhkan setiap ingatan dan sakit yang
menghantuiku selama ini.
Lihat, bukan hanya kau yang bisa berlari
meninggalkanku. Aku bisa berlari jauh lebih
cepat dan menyusulmu. Siapkan saja dirimu saat
aku akan melewatimu dengan wajah yang jauh
lebih bahagia dari saat kau memelukku.
Jangan bermimpi untuk menjatuhkanku, karena
aku jauh lebih kuat dari usahamu untuk
melakukannya. Aku akan melipat tawamu yang
berderai, membuang senyum di ujung-ujung
bibirmu, mengubur cerita-ceritamu dan
membakar segudang rasa yang pernah kau sebut
cinta sejati.
Di depanku sebuah masa telah menanti dengan
sejuta mimpi yang berharap akan diwujudkan.
Mereka menyambutku dengan haru setelah aku
kembali dari nerakamu. Ternyata ada lebih
banyak cinta dan kebahagiaan yang selama ini
telah kusia-siakan.
Di ujung masa itu aku akan menuliskan sebaris
kalimat untukmu, "Selamat menikmati
penyesalan tanpa akhir karena telah
melepaskanku."
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semenjak zaman Yunani kuno filsafat telah menjadi perhatian pokok para filsuf sebagai dasar pijakan untuk memandang segala sesuatu termasuk bahasa. Bahasa telah menjadi topik menarik sepanjang sejarah bagi para filsuf, dapat dikatakan perhatian filsafat terhadap bahasa saat ini sama agungnya dengan “ being” (yang ada) dalam filsafat klasik dulu. Logos atau bahasa menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama dari pengetahuan manusia. Seiring waktu para filsuf menemukan bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep analisa yang menjadi tugas utama filsafat. Keterpusatan para filsuf terhadap bahasa inilah yang kemudian dinamakan dengan “logosentrisme”. Eko Ari Widodo dalam Jurnal Oka Antara edisi ke-4, tahun 2009 menjelaskan bahwa logosentrisme adalah sebuah sistem metafisik yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental dibalik segala hal yang tampak di permukaan atau segala hal y...
Comments
Post a Comment