Pada malam itupun beliau meninggalan Keraton Pajajaran, menuju arah timur dengan harapan memohon kepada Yang Maha Agung, semoga kepergiannya mendapat petunjuk dan dipertemukan dengan orang-orang yang dapat menyembuhkan cacatnya itu.Setelah beberapa lama perjalanan sampailah ia di suatu tempat yaitu Kadipaten Rancah yang dipimpin oleh Dalem Gayam Cengkok. Tepatnya di Leuweng Gede. Di sana beliau bertemu dengan seorang emban (pembantu rumah tangga keraton) Dalem Rancah. Emban bertanya, “Kamu siapa?” dan Prabu Guru Gantangan menjawab, “Saya tidak punya nama!, saya tidak tahu darimana? Dan saya tidak punya orang tua, saya tidak ingat karena sudah lama di perjalanan”.Emban merasa kasihan lalu Prabu Guru Gantangan dibawa menghadap ke Dalem Rancah. Dalem Rancah menerima dengan baik di dalam keluarganya, kemudian setelah diberi makan, minum secukupnya seluruh pakaian yang compang camping diganti. Dalem Rancah mengetahui bahwa anak tersebut cacat salah satu tangannya.
Selama berada di Keraton Dalem Rancah, Prabu Guru Gantangan tidak pernah memberitahukan siapa beliau sebenarnya dan dari mana asalnya.Karena anak tersebut cacat tangan kananya, maka Dalem Rancah memerintahkan agar anak tersebut bertapa di hulu Cirancah selama 12 bulan.
Pada suatu waktu, di tempat pertapaan itu datanglah seekor Tupai Putih, lalu ia tangkap, secara kebetulah oleh tangan yang cacat. Maka terjadilah saling tarik menarik yang sama kuatnya, terjadilah mu’jizat, dimana tangan itu seketika menjadi lurus dan sembuh, sedangkan tupai putih tersebut pergi tanpa diketahui kemana?.Dalem Rancah, Gayam Cengkong memerintahkan seseorang untuk mengecek bagaimana keadaan anak itu. Ternyata keadaannya selamat bahkan tangannya yang kengkong sudah lurus kembali. Kemudian dibawa untuk menghadap Dalem dan bercerita tentang apa yang telah terjadi. Mereka semua bersyukur dan bergembira. Karena tangan beliau sudah sembuh maka dalem rancah menikahkan prebu guru gantangan dengan putrinya.
Beberapa waktu kemudian datanglah rombongan ustusan dari Kerajaan Pajajaran sebanyak beberapa orang yang bernama : Purwakalih, Gelap Nyawang, Kidang Pananjung ,Pangadegan, Aki Liman Jaya Sakti dan Aki Jagadalu.
Selain mencari keberadaan Prabu Guru Gantangan juga membawa pakaian selengkapnya, dan 7 ruas air untuk pengisian negeri bila Prabu Guru Gantangan tidak mau kembali.
Dengan seizin mertuanya Adipati Rancah, Prabu Guru Gantangan beserta istri dan beberapa utusan dari Pajajaran pergi mencari tempat untuk dijadikan negeri. Perjalanan mereka menuju selatan sampai ke pasir (bukit) Langu. Rombongan melanjutkan perjalanan sampai ke suatu tempat dan mereka berhenti sejenak, maka tempat tersebut terkenal dengan nama Dusun Randegan. Perjalanan dilanjutkan sampai ke suatu bukit rendah (Pasir Handap) semua berhenti dan musyawarah untuk sementara dan tempat tersebut di anggap cocok, maka segeralah dibuat bangunan, seperti Baliarung, alun-alun dan tidak lupa jalan dan lain sebagainya.
Tidak lupa air 7 ruas dari Pajajaran dibawa dan disimpan dekat rumah tepatnya di Pasarean. Selanjutnya negeri baru itu oleh Prabu Guru Gantangan diberi nama Handapraja.Lama kelamaan tempat itu kurang cocok, lokasinya kurang luas dan sedikit curam. Prabu Guru Gantangan pergi ke sebelah selatan, kemudian sampailah ke suatu bukit yang tepatnya mendatar cukup elok dan nyaman yaitu Bukit Samida. Kemudian Prabu Guru Gantangan pulang ke Handapraja, dan memberitahukan menemukan tempat yang cocok, maka segera pindah ke Bukit Samida, semua bangunan yang telah ada dipindahkan berikut 7 ruas air yang dibawa dari Pajajaran dan ditempatkan di tempat yang sekarang disebut Cibarani.
LOKASI SEJARAH: daerah RAJADESA,CIAMIS,JABAR
Sumber referensi:buku karya H.M. Suryana Wiradiredja, S.H

Comments
Post a Comment