Skip to main content

Pensiunan Guru Mencabuli 12 Anak Tetangga

     
YOGYAKARTA.- RWS (65), pensiunan guru di Bantul disebut mempunyai kelainan dari tindakannya yang melakukan pencabulan terhadap 12 anak di bawah umur selama 10 tahun terakhir. Sesuai pemeriksaan dari tim psikiater, RWS yang juga telah memiliki cucu tersebut memang memiliki kelainan lebih menyukai anak-anak atau pedofilia.
“Kata psikiater tersangka ini memang mempunyai kesenangan tersendiri ketika 'mainan' anak-anak,” kata Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Bantul Raka Bintang, Jumat 11 Maret 2016.
Menurut dia, kasus pencabulan anak-anak yang dilakukan oleh RWS berlangsung mulai 2011 hingga 2015. Rata-rata korban yang merupakan perempuan adalah tetangga pelaku dengan usia pendidikan mulai kelas 1 SD hingga 6 SD.
Dalam kasus yang menjerat RWS, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) guru tersebut membujuk para korban dengan memberikan uang jika mau diajak ke rumahnya, sebelum akhirnya melakukan aksi bejatnya.“Modusnya korban diiming-imingi duit agar mau ke rumahnya. Korban datang satu-satu,” kata dia.
Menurut Raka, Kejari Bantul akan menjerat pelaku dengan Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak Nomor Nomor 35 Tahun 2014 serta UU Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. “Jadi dia kena dua perkara, minimal kami hantam dengan hukuman 12 hingga 13 tahun,” ucapnya.
Pencabulan dilakukan RWS ketika ia yang seorang pensiunan guru mendapatkan kesempatan kembali mengajar sebagai guru bantu di salah satu sekolah setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di kawasan Kecamatan Bantul.
Status sebagai tenaga pengajar itulah yang kemudian dipakai pelaku untuk menjerat korban-korbannya. Dengan iming-iming bimbingan belajar gratis, ia berhasil mengajak korbannya yang semuanya berusia antara 13-15 tahun itu untuk mau diajak ke rumahnya.

Comments

Popular posts from this blog

REVISI MAKALAH HUBUNGAN FILSAFAT BAHASA DENGAN LOGOSENTRISME

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Semenjak zaman Yunani kuno filsafat telah menjadi perhatian pokok para filsuf sebagai dasar pijakan untuk memandang segala sesuatu termasuk bahasa. Bahasa telah menjadi topik menarik sepanjang sejarah bagi para filsuf, dapat dikatakan perhatian filsafat terhadap bahasa saat ini sama agungnya dengan “ being” (yang ada) dalam filsafat klasik dulu. Logos atau bahasa menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama dari pengetahuan manusia. Seiring waktu para filsuf menemukan bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep analisa yang menjadi tugas utama filsafat. Keterpusatan para filsuf terhadap bahasa inilah yang kemudian dinamakan dengan “logosentrisme”. Eko Ari Widodo dalam Jurnal Oka Antara edisi ke-4, tahun 2009 menjelaskan bahwa logosentrisme adalah sebuah sistem metafisik yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental dibalik segala hal yang tampak di permukaan atau segala hal y...

Sejarah Desa Rancah

          Menurut cerita dari para orang tua, Rancah dahulu berbeda dengan Rancah sekarang. Sesuai dengan namanya, Rancah zaman dahulu merupakan daerah yang penuh dengan lumpur (rawa), walaupun tidak semua daerah Rancah berlumpur. Oleh karena itu daerah Rancah cocok untuk ditanami tanaman padi. Disamping daerah rawa, Rancah juga ternyata diapit oleh pegunungan-pegunungan yang sangat luas. Potensi hasil hutan Rancah mungkin dahulu sangat besar. Tetapi lain dulu lain sekarang. Kini Rancah merupakan daerah yang mulai beralih kepada daerah perniagaan. Daerahnya yang sangat strategis membuat semua orang meliriknya untuk menjadikan Rancah sebagai tempat usaha. Pegunungan yang dahulunya penuh dengan pepohonan, kini sudah mulai berubah menjadi tempat pemukiman masyarakat yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Kalau melihat sejarah ada kemungkinan masyarakat Rancah dulunya adalah penganut Animisme dan dinamisme serta ajaran Hindu Budha. Hal ini dapat dibuktikan de...

Hujatan

      Hari ini musik banyak dihujat. Beberapa kawan dekat saya yang dulu aktif bermusik, kini bahkan bilang ia haram. Tapi musik adalah objek, ialah benda mati yang dihidupkan manusianya. Sama dengan pena diberikan kepada revolusioner maka mampu memerdekakan sebuah bangsa; diberikan kepada psikopat, ia menjelma senjata pembunuh yang bahkan mampu menggorok bayi yang tak berdosa pun.              di saat ku menyadari di sini