Skip to main content

Kisah 6 Jam Perjalanan Menuju Daratan dengan Gerhana Matahari Total Terlama di Dunia

        MABA- Hanya sekitar 5 jam penerbangan dan 1 jam perjalanan darat. Itulah perjalanan saya menburu Gerhana Matahari total ke Maba, Halmahera Timur. 

Saya seharusnya sangat menikmati perjalanan itu. Seharusnya, saya menjumpai pengalaman manis dan pemandangan indah Indonesia Timur. Namun, nyatanya tak sepenuhnya begitu.

Tiga jam 20 menit setelah take off dari Bandar Udara Soekarno Hatta, saya tiba di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado. Transit sekitat 1 jam, saya lalu melanjutkan penerbangan dengan rute Manado-Ternate-Buli.

Di pesawat, tampak pula rombongan wisatawan asing asal Belanda, peneliti dari Perancis, dan sejumlah pemburu gerhana dari Indonesia. Saya juga mengidentifikasi satu pejabat dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. 

Tak ada apapun yang terjadi saat terbang dari Manado ke Ternate kecuali kabin pesawat yang panas serasa tak ber-AC. Namun begitu akan take-off dari bandara Sultan Babullah di Ternate, terjadilah sesuatu yang mengusik.

Seorang petugas masuk ke kabin pesawat Wings Air IW 1170 yang saya tumpangi. Dia lalu meminta saya, dan orang yang duduk di barisan depan dan samping saya untuk pindah.

"Ada rombongan Bupati, ya," kata orang itu. "Pindah ke nomor 11 sana," katanya.

Satu orang dari mancanegara yang ikut diminta pindah tampak kebingungan. Dia bertanya pada istrinya yang seorang warga Indonesia. Sang istri pun lantas menjelaskan.

"What? No way!" serunya. "Apa dia membayar lebih? Kita sudah duduk di sini. Hanya karena pejabat lalu dia minta kita pindah?" katanya ngomel. 

Sang istri lantas menjelaskan pada paramugari bahwa dia membawa anak dan tak mungkin pindah. Akhirnya, hanya saya yang menjadi korban dan dipaksa pindah 

Sampai di Maba, seorang warga negara asing lantas bercerita pada rekannya. Saya kebetulan mendengarnya. Sang rekan berkomentar, "Ah menyedihkan. Menyedihkan ada orang yang menyalahgunakan kekuasaan untuk hal-hal macam ini."

Dan saya pun juga sedih. Bukan karena saya menjadi satu-satunya orang yang harus pindah, tetapi karena hal-hal klasik macam itu harus terjadi di saat Indonesia seharusnya mampu menyambut baik, mengapresiasi turis-turis yang menghabiskan ribuan dollar untuk melihat Gerhana Matahari total. Indonesia tampak tak bersahabat karena sikap raja-raja kecilnya.

Tak hanya sekali

Pengalaman yang cukup menyedihkan juga saya alami dalam perjalanan darat dari Buli ke Maba. Saya tak bisa bahagia karena juga menjumpai area dan pulau-pulau kecil yang "botak" karena tambang nikel.

Pak Is, pengemudi mobil yang saya tumpangi, bercerita bahwa dahulu pulau-pulau itu hijau. Penambangan nikel kemudian membuat pulau itu menjadi gersang. 

Salah satu yang ditunjukkan adalah Pulau Ge. Pak Is bercerita, banyak turis yang berminat ke sana. Namun dalam hati saya bertanya, untuk apa berkunjung melihat kegersangan? 

Sepanjang jalan dari Buli ke Maba, Pak Is menunjuk sejumlah area yang menjadi botak karena tambang. Dia juga menunjukkan area yang mengalami kebakaran hutan kala kemarau panjang tahun lalu. "Waktu tahun lalu saya lewat sini, asap semua, tertutup," cerita Pak Is. 

Sungguh menyedihkan bahwa tambang telah mengubah wajah daratan yang seharusnya punya potensi wisata itu menjadi wilayah yang kurang bernilai. 

Buli dan Maba kini memang mulai berkembang. Dari sisi infrastruktur, Buli dan Maba sudah punya jalur transportasi darat, tak seperti wilayah Halmahera Selatan yang masih mengandalkan laut. Ekonomi juga mulai hidup.

Namun demikian, Maba pun juga harus mulai berpikir tentang cara membangun wilayahnya. Apakah akan bergantung pada kegiatan eksploitasi alam? 

Di luar dua hal yang saya jumpai di atas, perjalanan ke Maba cukup menyenangkan. Perburuan gerhana ini sekaligus menjadi kesempatan pertama bagi saya untuk menginjakkan kaki di Halmahera Timur. 

Saya bisa makan ikan bakar segar dengan sambal yang mirip dhabu-dhabu. Ada sejumlah pilihan sumber karbohidrat saat makan, yaitu nasi, singkong, ubi, dam pisang. Ada pula kuah ikan yang segar dan sayur pepaya yang nikmat.

Maba sendiri memang wilayah yang sepi dan sulit sinyal data. Namun inilah yang mungkin menarik. Siapa pun bisa lepas dari rutinitas dan benar-benar lari ke "dunia yang berbeda". Penduduk bercerita, masih ada satu pulau eksotis tak jauh dari Maba. Di sana, ada pantai elok dengan pasir putih. Saya akan ke sana...

Comments

Popular posts from this blog

REVISI MAKALAH HUBUNGAN FILSAFAT BAHASA DENGAN LOGOSENTRISME

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Semenjak zaman Yunani kuno filsafat telah menjadi perhatian pokok para filsuf sebagai dasar pijakan untuk memandang segala sesuatu termasuk bahasa. Bahasa telah menjadi topik menarik sepanjang sejarah bagi para filsuf, dapat dikatakan perhatian filsafat terhadap bahasa saat ini sama agungnya dengan “ being” (yang ada) dalam filsafat klasik dulu. Logos atau bahasa menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama dari pengetahuan manusia. Seiring waktu para filsuf menemukan bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep analisa yang menjadi tugas utama filsafat. Keterpusatan para filsuf terhadap bahasa inilah yang kemudian dinamakan dengan “logosentrisme”. Eko Ari Widodo dalam Jurnal Oka Antara edisi ke-4, tahun 2009 menjelaskan bahwa logosentrisme adalah sebuah sistem metafisik yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental dibalik segala hal yang tampak di permukaan atau segala hal y...

Sejarah Desa Rancah

          Menurut cerita dari para orang tua, Rancah dahulu berbeda dengan Rancah sekarang. Sesuai dengan namanya, Rancah zaman dahulu merupakan daerah yang penuh dengan lumpur (rawa), walaupun tidak semua daerah Rancah berlumpur. Oleh karena itu daerah Rancah cocok untuk ditanami tanaman padi. Disamping daerah rawa, Rancah juga ternyata diapit oleh pegunungan-pegunungan yang sangat luas. Potensi hasil hutan Rancah mungkin dahulu sangat besar. Tetapi lain dulu lain sekarang. Kini Rancah merupakan daerah yang mulai beralih kepada daerah perniagaan. Daerahnya yang sangat strategis membuat semua orang meliriknya untuk menjadikan Rancah sebagai tempat usaha. Pegunungan yang dahulunya penuh dengan pepohonan, kini sudah mulai berubah menjadi tempat pemukiman masyarakat yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Kalau melihat sejarah ada kemungkinan masyarakat Rancah dulunya adalah penganut Animisme dan dinamisme serta ajaran Hindu Budha. Hal ini dapat dibuktikan de...

Hujatan

      Hari ini musik banyak dihujat. Beberapa kawan dekat saya yang dulu aktif bermusik, kini bahkan bilang ia haram. Tapi musik adalah objek, ialah benda mati yang dihidupkan manusianya. Sama dengan pena diberikan kepada revolusioner maka mampu memerdekakan sebuah bangsa; diberikan kepada psikopat, ia menjelma senjata pembunuh yang bahkan mampu menggorok bayi yang tak berdosa pun.              di saat ku menyadari di sini