Aku berada di satu titik dimana aku harus memilih , pergi dari semua ini atau aku harus tetap disini dengan segala ketidak nyamananku , aku harus bagai mana ? Aku harus gimana ? Aku harus seperti apa ?
Aku terdiam tanpa bisa berkata dan berharap semua kembali pada diriku sendiri kepada diriku yang lupa akan jati diri yang sebenarnya dan aku lupa menjadi diriku sendiri , aku mulai jenuh dengan segala ketidaknyamananku ini , aku telah menjadi orang lain dan aku telah jadi seseorang yang belum aku kenal sepercik pun , aku lupa aku hina di mata sang maha kuasa , aku telah banyak melupakannya , bahkan aku berbuat yang aku tidak bisa mengendalikannya , aku ini sekarang siapa ? Dan bagai mana keadanku sekarang ? , banyak syair yang membuat hatiku semakin hancur karna kelakuanku sendiri tanpa aku sadari , bagaimana aku harus kembali ?
Sampai kapan aku seperti ini ?
Jika aku harus seperti ini, sebenarnya aku ini salah atau aku ini hanya menutupi keadaanku yang sebenarnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semenjak zaman Yunani kuno filsafat telah menjadi perhatian pokok para filsuf sebagai dasar pijakan untuk memandang segala sesuatu termasuk bahasa. Bahasa telah menjadi topik menarik sepanjang sejarah bagi para filsuf, dapat dikatakan perhatian filsafat terhadap bahasa saat ini sama agungnya dengan “ being” (yang ada) dalam filsafat klasik dulu. Logos atau bahasa menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama dari pengetahuan manusia. Seiring waktu para filsuf menemukan bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep analisa yang menjadi tugas utama filsafat. Keterpusatan para filsuf terhadap bahasa inilah yang kemudian dinamakan dengan “logosentrisme”. Eko Ari Widodo dalam Jurnal Oka Antara edisi ke-4, tahun 2009 menjelaskan bahwa logosentrisme adalah sebuah sistem metafisik yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental dibalik segala hal yang tampak di permukaan atau segala hal y...
Comments
Post a Comment