Skip to main content

Integrasi Pengalaman Manusia

 Integrasi Pengalaman Manusia
            Pada Bab ini Penulis menjelaskan tentang bagaimana pengalaman manusia bisa menjadi sebuah landasan ilmu. Ilmu adalah “pengetahuan mendalam tentang suatu objek tertentu” (Pudjawidjata, 1984:23). Sedangkan landasan menurut S. Wojowasito (197) adalah alas, fondasi, dasar dan sumber, dimana ketiga hal ini adalah bagian terpenting dalam mengawali sesuatu. Dengan kata lain landasan ilmu dapat diartikan sebagai dasar berpijak atau tempat dimulainya atau dibentuknya suatu pengetahuan yang mendalam tentang suatu objek.
            Salah satu sifat ilmu adalah empiris dan objektif. Yang dimaksud empiris disini adalah bahwa ilmu dapat dibuktikan melalui pengalaman panca indera. Hal ini dikarenakan pengalaman panca indera manusia dapat diverifikasi secara ilmiah sehingga dapat dibuktikan kebenaranya dengan objective.
            Lalu bagaimana dengan pengalaman manusia yang lain yang bersifat non-inderawi seperti pengalaman intelektual atau pengalaman spiritual (religious atau mistik) apakah bisa dijadikan landasan ilmu? Ataukah tidak bisa karena sifatnya yang subjective?
KERANGKA PEMIKIRAN
ILMU
PENGETAHUAN                                                   PENGETAHUAN
INDERAWI                                                          NON-INDERAWI
 


      PENGALAMAN         PENGALAMAN          PENGALAMAN
          MIMPI                     INTELEKTUAL          MISTIS&RELIGIUS

1.      Pengalaman Mimpi (non-inderawi)
Pengalaman mimpi disebut sebagai pengalaman non-inderawi karena mimpi terjadi pada waktu tidur dan pada saat tidur semua indera di non-aktifkan. Hal-hal yang terjadi di alam mimpi dan objek-objek yang muncul dalam mimpi bersifat imajinal artinya memiliki citra fisik tetapi tidak memiliki fisikalitas. Meskipun begitu, menurut penulis pengalaman mimpi memiliki dua sisi yaitu subjective dan objective. Contoh dari sisi subjective pengalaman mimpi adalah saat A bermimpi manusia bisa terbang ke udara, lalu A terbangun dari mimpi dan menceritakan mimpi tersebut kepada orang lain, maka mimpi itu akan menjadi subjective karena hanya A saja yang mengalami kejadian tersebut. Sehingga dalam kasus ini, mimpi hanya dapat dilakukan sendirian saja.
            Namun mimpi juga memiliki sifat objective. Sebagai contoh, beberapa manusia pernah mengalami mimpi untuk kembali ke masa mudanya atau bermimpi bertemu orang yang telah meninggal dunia. Sehingga, dengan memiliki pengalaman yang sama pada pengalaman mimpi, secara tidak langsung hal ini menjadikan pengalaman mimpi sebagai suatu penglaman non-inderawi yang bersifat objective.
Penulis menjelaskan bahwa mimpi adalah simbol-simbol informasi dimana objek-objek yang muncul di dalam mimpi memiliki arti atau makna yang bisa diterjemahkan kedalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, mimpi berpotensi menjadi landasan sebuah ilmu. Sejalan dengan hal tersebut, mimpi dalam  pandangan islam telah lama menjadi sebuah sumber pengetahuan dan cabang ilmu yang disebut dengan naqliyyah yang berkaitan dengan tafsir mimpi. Namun, bagi Ibnu Khaldun mimpi dibedakan menjadi dua yaitu mimpi yang berarti kembang tidur dan mimpi sejati. Mimpi sejati memiliki pesan yang dikirimkan dari alam ruhani yang dikirimkan langsung oleh tuhan atau melalui malaikatnya.
2.      Pengalaman Intelektual
Pengalaman intelektual yang dialami oleh seorang manusia biasanya melalui penalaran akal. Kaum empiris memperdebatkan dengan keras perihal penaralan akal sebagai sumber pengetahuan. Hal ini disebabkan akal sejatinya bersifat apreorik atau pengetahuan menggunakan logika, dimana pengenalan akal bersifat general sedangkan bentuk nyata berbentuk general. Namun, penulis berpendapat bahwa akal justru sama pentingnya dengan indera. Karena akal bisa menjangkau hal tak terbatas. Maksudnya adalah bahwa dengan akal kita bisa tahu apa yang ada di balik dinding, sedangkan dengan mata mungkin tidak dapat terlihat. Hal ini diperjelas oleh Al-Ghazali dalam bukunya Misykat Al-Anwar bahwa akal bisa bisa melihat dirinya dan juga yang lain, tetapi indera hanya bisa melihat yang lain. Penulis berpendapat bahwa semua manusia memiliki konsep ruang, waktu dan kasualitas yang sama. Konsep ini merupakan hasil dari pengalaman intelektual manusia dengan menggunakan akal. Dengan demikian, pengalaman intelektual tidak semata-mata bersifat subjektif saja tapi bisa objektif.
Namun yang paling menarik adalah bagaimana Al-Ghazali memandang akal sebagai “cahaya” ketimbang indera. Hal ini dikarenakan dengan akal kita bisa melihat objek-objek yang lebih luas tak terbatas hingga objek non-fisik. Dimana melalui akal, manusia bisa ‘melihat” arti malaikat, Tuhan dan ma’qulat yang lain.
3.      Pengalaman Mistik dan Pengalaman religious
Pengalaman mistik dan religious keduanya memang dapat dikatakan memiliki sifat subjektif. Hal ini dikarenakan kedua pengalaman ini dialami sendiri-sendiri oleh masing-masing individu tetapi bisa juga menjadi objektif. Penulis menjelaskan bahwa sisi objective dari pengalaman mistik adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Arabi pada buku yang berjudul Al-Futhat Al-Makiyyah “siapapun yang masuk kealam mitsal--- dalam perjalanan mistik mereka—akan dikaruniai kemampuan untuk bisa mengerti semua bahasa yang ada disana dan segala yang ia jumpai” dari ide pemikiran tersebut penulis percaya bahwasanya kata “siapapun” disana mengartikan bahwa pengalaman mistik tersebut bisa dialami oleh siapa saja selagi Tuhan senantiasa menghendaki. Artinya apa, artinya bahwa pengalaman mistik sesungguhnya bersifat objective.
Kesimpulan:
            Penulis menyimpulkan bahwa ilmu tidak melulu harus bedasarkan pengalaman inderawi. Melalui paparan diatas, penulis menjelaskan bahwa pengalaman inderawi memiliki keterbatasan sehinggan Tuhan menciptakan akal yang dapat menjangkau objek-objek lebih jauh dan tanpa batas dan untuk mencapai ke jantung realitas, manusia membutuhkan pengalaman non-inderawi seperti mistik dan religious.


Comments

Popular posts from this blog

REVISI MAKALAH HUBUNGAN FILSAFAT BAHASA DENGAN LOGOSENTRISME

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Semenjak zaman Yunani kuno filsafat telah menjadi perhatian pokok para filsuf sebagai dasar pijakan untuk memandang segala sesuatu termasuk bahasa. Bahasa telah menjadi topik menarik sepanjang sejarah bagi para filsuf, dapat dikatakan perhatian filsafat terhadap bahasa saat ini sama agungnya dengan “ being” (yang ada) dalam filsafat klasik dulu. Logos atau bahasa menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama dari pengetahuan manusia. Seiring waktu para filsuf menemukan bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep analisa yang menjadi tugas utama filsafat. Keterpusatan para filsuf terhadap bahasa inilah yang kemudian dinamakan dengan “logosentrisme”. Eko Ari Widodo dalam Jurnal Oka Antara edisi ke-4, tahun 2009 menjelaskan bahwa logosentrisme adalah sebuah sistem metafisik yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental dibalik segala hal yang tampak di permukaan atau segala hal y...

Sejarah Desa Rancah

          Menurut cerita dari para orang tua, Rancah dahulu berbeda dengan Rancah sekarang. Sesuai dengan namanya, Rancah zaman dahulu merupakan daerah yang penuh dengan lumpur (rawa), walaupun tidak semua daerah Rancah berlumpur. Oleh karena itu daerah Rancah cocok untuk ditanami tanaman padi. Disamping daerah rawa, Rancah juga ternyata diapit oleh pegunungan-pegunungan yang sangat luas. Potensi hasil hutan Rancah mungkin dahulu sangat besar. Tetapi lain dulu lain sekarang. Kini Rancah merupakan daerah yang mulai beralih kepada daerah perniagaan. Daerahnya yang sangat strategis membuat semua orang meliriknya untuk menjadikan Rancah sebagai tempat usaha. Pegunungan yang dahulunya penuh dengan pepohonan, kini sudah mulai berubah menjadi tempat pemukiman masyarakat yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Kalau melihat sejarah ada kemungkinan masyarakat Rancah dulunya adalah penganut Animisme dan dinamisme serta ajaran Hindu Budha. Hal ini dapat dibuktikan de...

Hujatan

      Hari ini musik banyak dihujat. Beberapa kawan dekat saya yang dulu aktif bermusik, kini bahkan bilang ia haram. Tapi musik adalah objek, ialah benda mati yang dihidupkan manusianya. Sama dengan pena diberikan kepada revolusioner maka mampu memerdekakan sebuah bangsa; diberikan kepada psikopat, ia menjelma senjata pembunuh yang bahkan mampu menggorok bayi yang tak berdosa pun.              di saat ku menyadari di sini