Dunia ini penuh dengan fana yang menerjang
seakan semuanya sangat sulit untuk di perjuangkan tak tau bagai mana menbuat
semanya mudah untuk di jalani , tapi kita harus bias berusaha dengan apa yang
kita punya , jalan terbaik yang harus kita perjuangkan adalah denga jalan
berusaha dan bertafakur pada alloh swt , dan mungkin kita ini di turunkan di
bumi ini mempunyai banyak pemikiran
untuk sebuah Negara yang sekarang penung dengan cobaaan yang sedang
terjadi saat ini taka da lagi orang yang bias merangkul orang yang tidak mampu
mereka hanya memikirkan dirinya masing masing , apakah kita sebagai generasi
penerus bangsa hanya akan duduk dan diam saja melihat Negara kita dengan
keaadaan seperti ini taka da lagi orang yang mau mebenarkan dan memberskan
semua urusan ini karena merka sudah tidak punya lagi rasa belaskasihan yang
mendalam , semua yang tau artnya sebuah perjuangan akan ingin bias membenarkan
Negara ini , sudah lah semua itu hanya omong kosong dari mereka yang hanya
memikirkan kefanaan dunia ini akan kah semua ini berakhir untuk menjadi Negara
lebih baik lagi entahlah kepala Negara yang sekarang hanya tunduk pada sebuah
partai politik yang hanya memikirkan idiologi mereka sendiri semoga semua itu
menjadi bahan toalk ukur buat masarakat yang telah memilih presiden dengan
tidak memikirkan apa-apa , apakah sekarang kita hanya bias diam atau kita lawan
dengan segala kemampuan kita supaya Negara ini menjadi lebih baik lagi tapi
akan kah ita mampu melawan para penguasa yang berbuat seenaknya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semenjak zaman Yunani kuno filsafat telah menjadi perhatian pokok para filsuf sebagai dasar pijakan untuk memandang segala sesuatu termasuk bahasa. Bahasa telah menjadi topik menarik sepanjang sejarah bagi para filsuf, dapat dikatakan perhatian filsafat terhadap bahasa saat ini sama agungnya dengan “ being” (yang ada) dalam filsafat klasik dulu. Logos atau bahasa menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama dari pengetahuan manusia. Seiring waktu para filsuf menemukan bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep analisa yang menjadi tugas utama filsafat. Keterpusatan para filsuf terhadap bahasa inilah yang kemudian dinamakan dengan “logosentrisme”. Eko Ari Widodo dalam Jurnal Oka Antara edisi ke-4, tahun 2009 menjelaskan bahwa logosentrisme adalah sebuah sistem metafisik yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental dibalik segala hal yang tampak di permukaan atau segala hal y...
Comments
Post a Comment