Skip to main content

SELAMANYA TAK NYAMAN

SELAMANYA TAK NYAMAN
Karya :Ade Wildan Khairana Sudirman

Aku tak bisa merasa nyaman, bahkan di detik-detik aku memejamkan mata. Tidak nyaman dengan diriku sendiri ketika melihat betapa heroiknya kawan-kawanku membangun diri mereka sendiri, menggedor-gedor, menjebol dinding waktu dan ruang dengan segenap asa, hasrat dan tenaga, sementara aku memencilkan diri di sini. Membuat goretan-goretan tulisan dan bermain dengan obsesi betapa epos itu harus dirangkum untuk dikisahkan kembali dan lagi dan lagi di waktu-waktu mendatang, di ruang-ruang yang lain, oleh generasi-generai yang lain, kepada generasi-generasi yang lain, dan seterusnya. Betapa tak nyaman aku saat tenggelam dalam ekstasi yang bergejolak di rangkaian epik chaos, epik nihil, epik konsistensi, epik pemberotakan yang sepanjang hidup diguratkan kawan-kawan di kota tercinta ini. Betapa aku tak nyaman ketika kisah-kisah itu melambungkanku tinggi, menyedotku ke palung terdalam, menghempas-hempasku dalam pusar gulungan angin yang liar, memasungku tiba-tiba di tengah belantara sendirian, memaksa kaki-kaki kurusku menapaki jalanan-jalanan asing yang tak pernah kukenal dan sepertinya tak akan pernah kutapaki lagi selamanya bersama matahari, bulan, bintang, hujan, debu, angin. Aku tak merasa nyaman dengan celotehan malaikat kecilku, tak nyaman dengan belaian bidadariku, tak nyaman dengan musik-musik yag mengiringiku menuliskan kisah ini.
Aku tak bisa merasa nyaman, bahkan di detik-detik aku kembali membuka mata di pagi hari yang cerah dan merdu oleh cicit burung setelah tidur dua jam-tiga jamku yang gelisah. Musik-musik bergaung-gaung di dinding ruang-ruang dalam diriku. Memenuhi jiwaku, mengajaknya lepas, mengajaknya mendobrak sisi-sisi lain dalam diriku, menghadirkan semuanya dalam satu waktu, memecah jiwaku berserakan, dan melontarkan serpihannya di pinggiran hari-hari yang kulewati sepanjang hidupku. Tak nyaman aku dengan warnanya yang kerap berubah setiap aku mengedipkan mata hingga tak tahu aku bagaimana bentuknya, apa warnanya, nada-beat-melodi-irama-distorsi-feedback, semua menggelungku seperti ular. Mencumbuku. Menjilati leherku, lidahnya menusuk lubang telingaku. Aku mengerang, menjerit. Ejakulasi. Lalu terpecah berantakan. Seperti juga jiwaku, terpisah, tak lengkap, kesepian, tak nyaman, membentuk barisan doa yang bertumpuk, bergulung, berebut untuk pertama terucap hingga lalu tak satu pun di antara mereka benar-benar terucap. Di dalam, mereka menusuk-nusuk relungku, memberontak ingin keluar, ingin meliar, ingin masuk ke kerumunan, ke keramaian, menyeret-nyeret diriku hinga terluka, berdarah-darah.
 Aku benci keramaian, ruang sempit, dan pola berulang-ulang. Keramaian sedot energiku habis-habisan, membuatku berkunang-kunang dan pingsan. Ruang sempit memenjarakan indraku, membuatku satu dengan kondisi terendah dari diriku : materi, segumpal daging dan darah. Membatasi aku merengkuh alam, meleburkan diri bersamanya. Pola berulang menyungsangku dalam lingkaran matahari. Membuatku bagai roda, senantiasa berputar, sementara aku adalah pasak. Dan aku sangat tak nyaman lantaran kini aku ada di sana. Aku di kerumunan, di dalam diriku yang paling kecil, dan di dalam pola-pola menuju diriku yang berada di keramaian, dalam diriku yang paling kecil, dan dalam pola-pola menuju diriku yang berada di keramaian, dalam diriku yang paling kecil, dan dalam pola-pola menuju diriku ... Words playing me déjà vu… 
Namun apa itu nyaman? Kamu yang sudah nyaman, maka tuntaslah ,Silakan mati duluan!
Bila ada sudah merasa nyaman dengan hidup di dunia ini silahkan mati duluan , karena di dunia ini kita tidak akan merasakan kenyamanan seperti di surga tuhan mu nanti , semua yang ada di dunia ini hanya fana belaka .



Comments

Popular posts from this blog

REVISI MAKALAH HUBUNGAN FILSAFAT BAHASA DENGAN LOGOSENTRISME

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Semenjak zaman Yunani kuno filsafat telah menjadi perhatian pokok para filsuf sebagai dasar pijakan untuk memandang segala sesuatu termasuk bahasa. Bahasa telah menjadi topik menarik sepanjang sejarah bagi para filsuf, dapat dikatakan perhatian filsafat terhadap bahasa saat ini sama agungnya dengan “ being” (yang ada) dalam filsafat klasik dulu. Logos atau bahasa menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama dari pengetahuan manusia. Seiring waktu para filsuf menemukan bahwa bahasa dapat digunakan untuk mengungkapkan konsep-konsep analisa yang menjadi tugas utama filsafat. Keterpusatan para filsuf terhadap bahasa inilah yang kemudian dinamakan dengan “logosentrisme”. Eko Ari Widodo dalam Jurnal Oka Antara edisi ke-4, tahun 2009 menjelaskan bahwa logosentrisme adalah sebuah sistem metafisik yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental dibalik segala hal yang tampak di permukaan atau segala hal y...

Sejarah Desa Rancah

          Menurut cerita dari para orang tua, Rancah dahulu berbeda dengan Rancah sekarang. Sesuai dengan namanya, Rancah zaman dahulu merupakan daerah yang penuh dengan lumpur (rawa), walaupun tidak semua daerah Rancah berlumpur. Oleh karena itu daerah Rancah cocok untuk ditanami tanaman padi. Disamping daerah rawa, Rancah juga ternyata diapit oleh pegunungan-pegunungan yang sangat luas. Potensi hasil hutan Rancah mungkin dahulu sangat besar. Tetapi lain dulu lain sekarang. Kini Rancah merupakan daerah yang mulai beralih kepada daerah perniagaan. Daerahnya yang sangat strategis membuat semua orang meliriknya untuk menjadikan Rancah sebagai tempat usaha. Pegunungan yang dahulunya penuh dengan pepohonan, kini sudah mulai berubah menjadi tempat pemukiman masyarakat yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Kalau melihat sejarah ada kemungkinan masyarakat Rancah dulunya adalah penganut Animisme dan dinamisme serta ajaran Hindu Budha. Hal ini dapat dibuktikan de...

Hujatan

      Hari ini musik banyak dihujat. Beberapa kawan dekat saya yang dulu aktif bermusik, kini bahkan bilang ia haram. Tapi musik adalah objek, ialah benda mati yang dihidupkan manusianya. Sama dengan pena diberikan kepada revolusioner maka mampu memerdekakan sebuah bangsa; diberikan kepada psikopat, ia menjelma senjata pembunuh yang bahkan mampu menggorok bayi yang tak berdosa pun.              di saat ku menyadari di sini